Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Desain Dan Kemasan Produk : Pentingnya Desain Kemasan Produk

Desain Dan Kemasan Produk : Pentingnya Desain Kemasan Produk
image via pixabay

Pentingnya Desain Kemasan Produk- Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel saya sebelumnya yakni tentang pentingnya desain produk. Bagi Anda yang belum sempat membacanya silahkan membacanya terlebih dahulu agar mendapatkan pemahaman lebih mendalam lagi.

PENGERTIAN KEMASAN PRODUK 

Pengemasan produk merupakan bagian yang cukup penting meskipun terkadang untuk produk-produk tertentu tidak memerlukan kemasan, seperti patung, meja, kursi dan produk lainnya. Pengemasan produk mengandung arti bagaimana cara membungkus atau mengemas suatu produk agar tahan lama, tidak cepat rusak, tidak mudah kotor, lebih bagus dan aman serta lebih menarik konsumen agar mau membeli. 

Anda pasti pernah mendengar ungkapan ini, "Kesan Pertama Begitu Menggoda" bukan? Ya, kesan pertama yang akan menarik perhatian dari calon pembeli atau konsumen penampilan kemasan (packaging) produk yang unik dan menarik.

Pengemasan produk dilakukan agar konsumen tertarik dan mau membelinya, oleh karenanya sebuah pengemasan yang baik harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
 
1. Bentuk Dan Model

Artinya kemasan produk harus bisa menyesuaikan dengan bentuk produknya itu sendiri serta harus memperlihatkan apa yang menjadi ciri khas dari produk tersebut. 

2. Ukuran Produk

Ukuran produk dari produk harus diperhatikan, artinya jangan sampai ukuran kemasannya terlalu kecil atau terlalu besar, tetapi juga jangan sampai terlalu ketat karena bisa merusak produknya. 

3. Daya Tahan Kemasan

Daya tahan kemasan juga perlu di perhatikan karena produk tertentu memerlukan kemasan khusus agar daya tahan produknya lebih lama. 

4. Bahan Kemasan 

Bahan kemasan juga harus sesuai dengan produknya agar tidak cepat rusak baik ke produk maupun ke bungkus kemasananya. 

5. Pelabelan Dan Pemberian Merek

Pelabelan dan pemberian merek dalam kemasan juga harus menyesuaikan agar terlihat lebih menarik dan pas dalam kemasannya. 

DESAIN KEMASAN PRODUK 

Design kemasan produk harus dirancang dan dibuat sebaik mungkin agar tampak "eye catching" dan menarik. 

Adapun dalam merancang atau merencanakan pembuatan suatu kemasan sebaiknya kita memperhatikan hal-hal berikut: 

a. Kesesuaian Produk Dengan Bahan Pengemasnya 

Maksudnya adalah dalam menentukan desain bahan pengemas kita harus mempertimbangkan produk yang dimiliki. Jika produk berbentuk cairan, seperti jus atau sirup, kita bisa memilih desain bahan pengemas seperti botol atau gelas plastik. 

Jika produk tersebut berupa makanan kering, seperti keripik, kerupuk, atau yang lainnya kita bisa menggunakan plastik transparan atau kemasan lainnya. Plastik dapat digunakan sebagai kemasan primer sekaligus dengan labelnya, juga bisa dimasukkan kedalam kemasan lain seperti dus kertas sebagai kemasan sekunder. 

b. Ukuran Kemasan Dan Ketebalan Bahan Kemasan 

Ukuran kemasan sangat berkaitan dengan banyak atau sedikitnya isi yang diinginkan, sedangkan ketebalan berkaitan dengan keawetan dari produk yang ada di dalamnya. Jika produknya ringan, seperti kerupuk maka sebaiknya kemasan dibuat dalam ukuran yang relatif besar. 

c. Bentuk Kemasan 

Agar kemasan menarik, maka bentuk kemasan bisa dirancang dalam bentuk yang unik bergantung dari kreativitas perancangnya. Misalnya, kemasan dus kertas bisa dibuat seperti tabung, kubus, balok, trapesium atau bentuk-bentuk menarik lainnya. 

FUNGSI KEMASAN PRODUK 

Secara umum, fungsi kemasan adalah sebagai bahan pelindung atau pengaman produk dari pengaruh-pengaruh luar yang dapat mempercepat terjadinya kerusakan pada produk yang ada di dalamnya. 

Namun demikian, kemasan masih memiliki fungsi - fungsi atau kegunaan lain yang tidak kalah pentingnya, seperti mempermudah distribusi atau pengontrolan produk. Bahkan saat ini ada fungsi yang ternyata berperan sangat penting, yaitu kemasan sebagai media atau sarana informasi dan promosi dari produk yang ditawarkan. 

Berikut ini adalah beberapa fungsi kemasan produk, antara lain: 
  • Sebagai wadah, perantara produk selama pendistribusian dari produsen ke konsumen.
  • Sebagai pelindung, kemasan diharapkan dapat melindungi produk yang ada konsumen. di dalamnya dari berbagai faktor penyebab kerusakan, baik yang disebabkan oleh faktor cuaca dan sebagainya.
  • Memudahkan pengiriman dan pendistribusian, artinya dengan pengemasan yang baik suatu produk akan lebih mudah didistribusikan. 
  • Memudahkan dalam penyimpanannya, artinya sebuah produk yang telah dikemas dengan baik akan lebih mudah untuk di simpan. 
  • Memudahkan penghitungan, dengan pengemasan jumlah atau kuantitas produk lebih mudah dihitung. 
  • Sebagai penarik konsumen dengan pengemasan yang unik akan memberikan nilai tambah terhadap produknya. 
  • Sarana informasi dan promosi.

Pengemasan atau pembungkusan, adalah suatu proses pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk yang ada di dalamnya bisa tertampung dan terlindungi. Sedangkan kemasan produk adalah bagian pembungkus dari suatu produk yang ada di dalamnya. Pengemasan ini merupakan salah satu cara untuk mengawetkan atau memperpanjang umur dari produk-produk yang terdapat di dalamnya. 

Teknologi pengemasan produk terus berkembang dari waktu ke waktu dari mulai proses pengemasan yang sederhana atau tradisional dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti dedaunan atau anyaman bambu, sampai teknologi modern seperti saat ini. 

Contohnya, zaman dulu orang membuat tempe dan dibungkus dengan menggunakan daun pisang atau daun jati, membungkus gula aren dengan daun kelapa atau daun pisang kering. Teknologi pengemasan yang semakin maju dan modern telah berubah dimana saat ini banyak produk tempe yang menggunakan kemasan dari bahan plastik. 

Beberapa contoh pengemasan modern di antaranya :
  • Plastik
  • Kaleng Atau Logam
  • Kertas komposit
  • Jerigen plastik

KLASIFIKASI KEMASAN PRODUK 

Desain Dan Kemasan Produk : Pentingnya Desain Kemasan Produk
image via pixabay

Menurut pendapat dari Julianti dan Nurminah (2006), kemasan produk dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal atau beberapa cara, yaitu sebagai berikut: 

a. Kemasan Berdasarkan Frekuensi Pemakaian 
  • Kemasan sekali pakai (disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah dipakai, seperti kemasan produk mie instant dan  permen. 

  • Kemasan yang dapat dipakai berulangkali (multitrip), biasanya dikembalikan ke produsen, misalnya botol minuman, botol kecap, dan botol sirup. 

  • Kemasan atau wadah yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen (semi disposable), tetapi digunakan untuk kepentingan lain oleh konsumen, misalnya botol untuk tempat air minum di rumah, kaleng susu untuk tempat gula, kaleng biskuit untuk tempat kerupuk, wadah jam untuk merica, dan sebagainya. 
b. Kemasan Berdasarkan Struktur Sistem Kemas (Kontak Produk dengan Kemasan) 
  • Kemasan primer, yaitu kemasan yang langsung bersentuhan dengan produk yang di bungkusnya. 
  • Kemasan sekunder, yang tidak bersentuhan langsung dengan produknya akan tetapi membungkus produk yang telah dikemas dengan kemasan primer. 
  • Kemasan tersier dan kuartener, yaitu kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer atau sekunder. 
c. Kemasan Berdasarkan Sifat Kekauan Bahan Kemasan 
  • Kemasan fleksibel, yaitu bahan kemasan yang mudah dilenturkan tanpa adanya retak atau patah. Misalnya plastik, kertas dan foil. 
  • Kemasan kaku, yaitu bahan kemas yang bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan, patah jika dibengkokkan relatif lebih tebal dari kemasan fleksibel. Misalnya kayu, gelas dan logam. 
  • Kemasan semi kaku atau semi fleksibel, yaitu bahan kemas yang memiliki sifat-sifat antara kemasan fleksibel dan kemasan' kaku. Misalnya botol plastik (susu, kecap, saus), dan wadah bahan yang berbentuk pasta. 
d. Kemasan Berdasarkan Sifat Perlindungan terhadap Lingkungan 
  • Kemasan hermetis (tahan uap dan gas), yaitu kemasan yang secara sempurna tidak dapat dilalui oleh gas, udara atau uap air sehingga selama masih hermetis wadah ini tidak dapat dilalui oleh bakteri, kapang, ragi dan debu. Misalnya kaleng, botol gelas yang ditutup secara hermetis. 
  • Kemasan tahan cahaya, yaitu wadah yang tidak bersifat transparan, misalnya kemasan logam, kertas dan toil. hemasan ini cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak dan vitamin yang tinggi, serta makanan hasil 
  • Kemasan tahan suhu tinggi, yaitu kemasan untuk bahan yang memerlukan fermentasi. proses pemanasan, pasteurisasi dan sterilisasi. Umumnya terbuat dari logam dan gelas. 
e. Kemasan Berdasarkan Tingkat Kesiapan Pakai (Perakitan) 
  • Wadah siap pakai, yaitu bahan kemasan yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah sempurna. Contohnya botol, wadah kaleng dan sebagainya. 
  • Wadah siap pakai, yaitu bahan kemasan yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah sempurna. Contohnya botol, wadah kaleng dan sebagainya. 
  • Wadah siap dirakit atau wadah lipatan, yaitu kemasan yang masih memeriukan tanap perakitan sebelum diisi. Misalnya kaleng dalam bentuk lembaran (flat) dan sihnder fleksibel, wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik.

SYARAT KEMASAN PRODUK 

Dalam menyusun kemasan, seorang wirausahawan harus memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan produknya, seperti syarat kemasan yang baik.

Berikut ini adalah syarat - syarat kemasan yang baik, antara lain:
  • Kuat dan aman (untuk produk maupun konsumen).
  • Terlihat menarik (eye catching) 
  • Praktis (mudah dibuka/dibawa). 
  • Terbuat dari bahan yang mudah didapat (utamanya yag bisa didaur ulang). 
  • Memiliki nilai lebih (unik, artistik, berfungsi ganda). 
  • Murah (tidak membebani biaya produksi). 
Bahan-bahan kemasan yang ada saat ini, di antaranya kertas, plastik, gelas, kaleng atau logam dan kemasan komposit yang merupakan perpaduan dari dua atau lebih bahan pengemas. 

Bahan-bahan pembuat kemasan produk, antara lain:.
  • Film 
  • Papan 
  • Kayu 
  • Gelas 
  • Foil 
  • Plastik 
  • Kertas 
  • Logam 

Kemasan produk merupakan salah satu hal yang paling awal yang akan terlihat oleh konsumen, yang selanjutnya menentukan ketertarikan konsumen untuk membeli produk tersebut. Dengan sendirinya, produk yang kurang dikemas dengan baik menjadi kurang dilirik oleh konsumen.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 79/ Menkes/Per/III/1978 tentang Label dan Periklanan Makanan, pada label atau etiket kemasan khususnya untuk makanan dan minuman sekurang-kurangnya dicantumkan hal-hal berikut: 
  • Nama makanan dan merek dagang. 
  • Komposisi dan kandungan bahan, kecuali untuk makanan yang cukup diketahui  komposisinya secara umum. 
  • Isi netto. 
  • Nama dan alamat perusahaan yang memproduksi atau mengedarkan. 
  • Nomor pendaftaran (SP atau MD).
  • Kode produksi, tanggal kadaluarsa dan label halal. 

MERANCANG KEMASAN PRODUK 

Desain Dan Kemasan Produk : Pentingnya Desain Kemasan Produk
image via pixabay

Merancang atau mendesain label kemasan bergantung pada kreativitas para desainernya, baik itu ukuran, bentuk, maupun kombinasi corak serta warnanya. 

Namun demikian, ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat label kemasan bagi seorang wirausahawan, yaitu: 

a. Label tidak boleh menyesatkan 

Apa saja yang tercantum dalam sebuah label, baik berupa kata-kata, kalimat nama, lambang, logo, atau gambar harus sesuai dengan produk yang ada di dalamnya. 

b. Memuat informasi yang diperlukan. 

Label sebaiknya cukup besar (relatif terhadap kemasannya), sehingga dapat memuat informasi atau keterangan tentang produknya. Hal-hal yang seharusnya ada atau tercantum dalam label produk makanan adalah sebagai berikut: 
  • Nama produk, adalah nama dari makanan atau produk pangan yang terdapat di dalam kemasan misalnya dodol nanas, keripik pisang, keripik singkong, dan lain sebagainya. 
  • Cap atau Trade mark jika ada, produsen sebaiknya memiliki cap atau trade mark atau merek dagang. Cap berbeda dengan nama produk dan bisa tidak berhubungan dengan produk yang ada di dalamnya, misalnya dodol nanas cap "Panda", Kecap ikan cap "Wallet 
  • Komposisi atau daftar bahan yang digunakan. Komposisi atau daftar bahan merupakan keterangan yang menggambarkan tentang semua bahan yang digunakan dalam pembuatan produk makanan tersebut. Cara penulisan komposisi bahan penyusun dimulai dari bahan mayor atau bahan utama atau bahan yang paling banyak digunakan sampai yang terkecil. 
  • Netto atau volume bersih, ini menggambarkan bobot atau volume produk yang sesungguhnya. Apabila bobot produk berarti bobot produk yang sesungguhnya tanpa bobot bahan pengemas. 
  • Nama pihak produksi, yaitu nama perusahaan yang membuat atau mengolah produk makanan tersebut.
  • Distributor atau pihak yang mengedarkan jika ada. Dalam kemasan juga harus mencantumkan pihak-pihak tertentu seperti pengepak atau importir jika ada. 
  • Nomor Registrasi Dinas Kesehatan, ini sebagai bukti bahwa produk tersebut telah teruji dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi. 
  • Kode Produksi, yaitu kode yang menyatakan tentang batch produksi dari produk pada saat pembuatan yang isinya tanggal produksi dan angka atau hurup lainnya yang mencirikan dengan jelas produk tersebut. Keterangan kadaluarsa adalah keterangan yang menyatakan umur produk 
  • Keterangan kadaluarsa, yaitu keterangan yang menyatakan umur produk yang masih layak untuk dikonsumsi
Menurut Julianti dan Nurminah (2006), keterangan kadaluarsa dapat ditulis sebagai berikut: 
  • Best before date: produk masih dalam kondisi baik dan masih dapat akonsumsi beberapa saat setelah tanggal yang tercantum terlewati. 
  • Use by date: produk tidak dapat dikonsumsi, karena berbahaya bagi kesehatan manusia (produk yang sangat mudah rusak oleh mikroba) setelah tanggal yang tercantum terlewati. 
UNSUR YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM KEMASAN PRODUK

Kemasan yang cantik dan mendukung produk juga berfungs1 sebagal ikon yang bisa membuat pelanggan selalu ingat dengan produk yang dijual. 

Beberapa point penting dalam memilih kemasan produk, antara lain:

a. Target Market 

Ketika memutuskan untuk menjual produk, pasti Anda sudah memiliki pangsa pasar atau target market sendiri. Penentuan target market bisa menentukan jenis dan model kemasan yang sesuai untuk produk yang akan dijual. 

Kemasan produk yang ditujukan untuk anak-anak, anak muda, dan orang tua, pasti akan jauh berbeda. Dengan mengenali target market yang akan disasar, Anda akan mengetahui desain kemasan yang sesuai untuk masing masing kalangan usia. Model dan jenis kemasan yang tidak sesuai dengan target market yang dituju membuat penjualan produk menjadi kurang maksimal. 

b. Ergonomis 

Selain produk yang menarik, kemasanpun harus dibuat semenarik mungkin.  Produk harus mampu tampil menonjol dan menarik mata atau eye catching. Penggunaan warna dan desain vang unik, akan menarik bagi konsumen. Kemasan juga harus memiliki nilai ergonomis, yang menonjolkan kenyamanan untuk konsumen maupun penjualnya. 

Kenyamanan kemasan produk merupakan hal yang dicari konsumen, karena memudahkan konsumen untuk menikmati produknya. Selain itu, produk yang ergonomis juga praktis, mudah dibawa, atau nyaman dipegang. 

c. Ciri khas 

Sampai saat ini, banyak jenis dan model kemasan yang menarik. Untuk lebih menarik konsumen, sebaiknya pilih kemasan yang berbeda dan unik. Jika perlu, jadikan kemasan produk menjadi salah satu ciri khas dari produk yang dijual. Bentuk kemasan yang unik dan berbeda bisa membuat pelanggan menjadi selalu ingat, bahkan menjadikan produk tersebut ikon dari produk sejenisnva 

d. Ukuran 

Sesuaikan ukuran kemasan dengan ukuran produk yang dijual. Hindari penggunaan ukuran vang terlalu besar atau terlalu kecil agar produk tidak rusak, dan sesuaikan juga dengan kebutunan Konsumen. Ketika kita berbicara tentang minuman. maka untuk mengemas minuman dalam ukuran dua sampai tiga kali minum sudah habis berarti botolnya tidak perlu terlalu besar, karena tidak akan efektif. 

e. Special Pack 

Tidak lengkap rasanya menjual produk dengan kemasan yang menarik tanpa memberikan promosi apapun. Cobalah untuk jeli melihat keadaan dan momen acara besar yang sedang terjadi. Misalnya saat momen hari raya, tidak ada salahnya untuk memberikan special pack dengan warna, desain, sampai penawaran berupa promo yang menarik bagi konsumen. 

STANDAR DESAIN KEMASAN PRODUK 

Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dan berlaku secara nasional di Indonesia. Badan Standardisasi Nasional (BSN), yaitu badan yang membantu presiden dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan di bidang standardisasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Standar nasional Indonesia berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesia. Standar Nasional Indonesia bersifat sukarela untuk ditetapkan oleh pelaku usaha.(PPnomor 102 tahun 2000). 

SNI disusun dengan maksud membuat pengertian yang sama tentang istilah dan definisi suatu produk pangan, menyeragamkan penamaan atau penyebutan produk pangan serta menyiapkan acuan atau pedoman istilah dan definisi dalam rangka standardisasi dan sertifikasi produksi suatu produk pangan. 

Standardisasi dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja, dan masyarakat lainnya, baik keselamatan, keamanan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup, serta membantu kelancaran perdagangan dan mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan.

Demikianlah uraian artikel mengenai Desain Dan Kemasan Produk : Pentingnya Desain Kemasan Produk. Semoga artikel ini semakin menambah wawasan dan ilmu pengetahuan Anda.

Post a Comment for "Desain Dan Kemasan Produk : Pentingnya Desain Kemasan Produk"